Jumat, 25 Desember 2015

Lima Alasan Memelihara Burung Hantu

Strix Seloputo
Burung hantu mungkin bukan peliharaan populer ataupun menarik di beberapa kalangan. Perawakan yang sedikit menyeramkan dengan wajah bundar dan pesek, serta sering dikait-kaitkan dengan mahluk halus, membuat burung hantu memiliki sedikit peminat di bandingkan dengan hewan peliharaan sejenis kucing maupun anjing.

Tapi bagi pecinta hewan eksotik, burung hantu memiliki tempat tersendiri di hati mereka, termasuk saya sendiri menyukai hewan eksotik satu ini. Ada beberapa alasan kenapa saya lebih tertarik untuk menjadikan burung hantu sebagai hewan peliharaan, dan akan saya uraikan ditulisan ini.

1.UNIK
Burung hantu memiliki struktur tubuh yang unik dibanding hewan lainnya. Misal, burung hantu tidak bisa memutarkan bola matanya yang besar. Oleh karena itu untuk mengikuti pergerakan mangsanya, burung hantu akan memutar kepalanya hingga 270 derajat. 
saat sedang fokus memperhatikan sesuatu (Oriental Bay)
Selain itu burung hantu memiliki selaput bening yang melapisi seluruh bagian bola matanya. Sehingga mereka memiliki kemampuan melihat 100 kali lebih hebat dibandingkan dengan manusia. Makanya meski terbang dalam kondisi malam yang gelap gulita, burung hantu tidak akan menabrak.

Keunikan lainnya, burung hantu tidak memiliki tombolok untuk menyimpan sementara makanan mereka, untuk dilunakkan sebelum menuju ke proventrikulus (lambung kelenjar). Burung hantu akan menelan bulat-bulat mangsa mereka seperti tikus, kadal, kodok, dll, setelah dicabik-cabik dengan paruhnya. Nah, untuk bagian tubuh mangsanya yang tidak bias dicerna, seperti bulu dan tulang, akan dimuntahkan kembali melalui mulutnya. Muntah tersebut bentuknya seperti biji buah salak yang disebut pellet.

2.BURUNG PEMBASMI HAMA
Semenjak saya memlihara burung hantu, kira-kira sudah hampir setengah tahun, selama itu pula saya tidak pernah lagi melihat tikus berkeliaran di sekeliling rumah. Tikus adalah hewan pengerat yang menjadi makanan utama bagi burung hantu. Oleh karena itu, tikus yang ada dirumah sudah takut untuk menampakkan dirinya semenjak saya memelihara Weazly (nama untuk burung hantu saya).

Melihat peluang itu bahwa burung hantu bisa membasmi hama khususnya hewan pengerat, petani dibeberapa daerah di pulau jawa seperti di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memiliki cara dalam membasmi hama tikus di areal persawahan mereka, yakni dengan memelihara burung hantu selaku predator alami hewan pengerat tersebut.

3.HEWAN NOKTURNAL
Burung hantu termasuk dalam hewan nokturnal, yang aktifnya pada malam hari. Burung hantu ini memiliki kemampuan pendengaran dan penciuman serta penglihatan yang tajam. Burung hantu juga merupakan burung yang satu-satunya menggunakan sonar untuk berburu. Sonar biologis ini dimiliki oleh burung hantu untuk membantu berbelok bahkan bermanuver dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga sangat jarang untuk menabrak apa yang ada dihadapannya.

4.HEWAN DOMESTIKASI
Burung hantu termasuk hewan liar, bukan jenis hewan peliharaan, tetapi walaupun liar, burung hantu bisa dijinakkan. dinamakan proses domestikasi, yaitu proses penjinakan hewan-hewan yang hidup liar menjadi hewan-hewan piaraan.

Ketika sudah jinak, burung hantu dapat dijadikan teman yang baik dan tidak berbahaya, seperti kucing ataupun anjing.
sudah jinak dan dapat dipeluk  (Bubo Sumatranus)
5. SIMBOL KESETIAAN
Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan burung hantu adalah kesetiaan mereka terhadap pasangannya. Burung hantu hanya sekali kawin dalam hidupnya. Selain itu bangsa Barat modern pada umumnya mengasosiasikan burung hantu dengan kebijakan. Kaitan itu berasal dari Yunani Kuno, tempat Atena, yang ramai dengan seni dan keilmuan, memiliki burung hantu sebagai simbolnya.

Nah, itulah beberapa alasan kenapa saya memilihara burung hantu, disamping keunikan yang dimiliki, burung hantu juga dapat dijadikan teman yang baik. Terlepas dari semua mitos negatif yang berkembang di beberapa kalangan masyarakat.

Kamis, 17 Desember 2015

Maaf, Saya Sibuk!

Saya pernah membaca postingan di sosial media. Bunyinya kira-kira seperti ini, ada satu titik dimana kita akan menengok ke belakang. Teman-teman yang dulu selalu bersama satu per satu hilang, bahkan merasa “is it just me?”. Mulai dari yang saling sapa, bertemu setiap hari, tertawa bersama, foto bersama sampai makan bersama. Kelak semua akan sibuk sendiri-sendiri, mau bertemu susah, bahkan mau menyapa juga susah. Kalau sudah seperti ini, mau salahkan siapa? Tidak ada! Memang semua masanya sudah habis.

Sambil menghela nafas panjang, saya seakan memutar kembali kenangan yang ada di otak. Saya kemudian mencoba mengingat-ingat kapan terakhir saya berkumpul, tertawa bersama, atau hanya sekadar bercerita lepas sepanjang malam bersama mereka. Mereka yang sering menjengkelkan ternyata membuat saya rindu. Mereka adalah teman-teman saya di bangku SMA.

Setelah lulus di SMA dan melanjutkan pendidikan ke Universitas pilihan masing-masing, kami masih sering bertemu walaupun tidak sesering waktu SMA dulu. Kami menyempatkan bertemu seminggu dua kali atau seminggu sekali. Kami rasa itu sudah cukup, karena padatnya jadwal sebagai mahasiswa baru.

Mungkin dapat dimaklumi, sebagai mahasiswa baru, banyak kegiatan-kegiatan kampus yang harus kami ikuti. Alibi pertama yang kuat untuk dijadikan alasan jarang bertemu. Ini juga yang  menjadi awal alasan-alasan berikutnya.

Bergabung di kegiatan extrakurikuler atau organisasi kampus ditambah dengan tugas yang begitu banyak semakin membuat kami jauh. Bertemu dengan kawan-kawan yang baru semakin membuat kami saling “melupakan” satu sama lain. Sepertinya masa perkawanan kami saat SMA telah habis.

Tapi, saya dan beberapa teman sesungguhnya tidak menginginkan masa perkawanan kami memiliki waktu kadaluarsa. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak terlibat dalam organisasi kampus.  Dengan begitu, saya tidak sesibuk yang lainnya.

Mengambil inisiatif untuk mengumpulkan mereka semua, ternyata tidak segampang yang saya kira. Mencari waktu kosong mereka dan menyesuaikan dengan yang lain ternyata sangat susah. Ketika mereka diajak untuk bertemu, jawaban yang saya dapat hanya berupa ungkapan maaf, “Maaf, saya ada kegiatan kampus” atau “Maaf, tugas kampus saya begitu banyak” Jawaban yang membuat darah saya naik ke ubun-ubun. Sambil bergumam dalam hati “Belum jadi apa-apa saja, susahnya minta ampun untuk ketemu. Bagaimana kalau mereka sudah jadi orang terkenal?”.

Akhirnya, saya putuskan untuk mencari kesibukan sendiri berusaha menghilangkan kekesalan yang terbawa selama berminggu-minggu hingga lupa bahwa saya pernah marah soal itu.

***

Dua tahun kemudian

Memutuskan untuk kuliah sambil kerja ternyata membuat saya semakin sibuk, bahan lebih sibuk dibanding dengan yang lain. Kampus dan kantor menjadi saksi keseharian saya. Sementara mereka sekadar  aktif di dunia kampus saja atau cukup memilih untuk berkarir dulu.

Membagi waktu antara kuliah, kerja, berkumpul bersama teman-teman bahkan berkumpul bersama keluarga pun susah. Ternyata bekerja sebagai buruh media membuat waktu tidak cukup untuk melakukan hal lain diluar pekerjaan saya. Kalaupun bisa, saya harus pintar-pintar untuk membagi waktu, mengingat tubuh saya juga memiliki hak untuk istirahat sejenak.

Bekerja dari hari Senin sampai Sabtu, atau bahkan dari Senin hingga ke Seninnya lagi pernah saya alami. Sejak pagi hingga malam, bahkan berjumpa pagi lagi, juga pernah saya lakukan. Rutinitas yang begitu padat membuat saya jarang bersosialisasi dengan teman-teman lama bahkan dengan keluarga.

Pernah sekali, ada acara pernikahan sepupu, semua keluarga berkumpul dan mengenakan pakaian seragam yang telah dijahit jauh hari sebelumnya. Saya datang terlambat, bahkan sangat terlambat, dan masih mengenakan pakaian kantor. Berhubung waktu itu saya baru pulang liputan di luar kota dan belum sempat mengganti pakaian karena takut terlambat datang ke acara resepsi pernikahan sepupu. Alhasil, setelah acara selesai, saya mendapat wejangan-wejangan panjang dari tante dan om bahwa keluarga harus dinomor satukan.

Lain halnya dengan teman-teman yang dulu terlalu sibuk. Dunia memang berputar, dan keadaan tidak selalu sama. Mereka yang dulu sibuk kini malah sering mengajak untuk bertatap muka. Kali ini giliran saya yang mengatakan “maaf” kepada mereka. Bukan untuk balas dendam, tapi memang keadaan yang tidak memungkinkan untuk dapat bertemu dengan mereka.

Mungkin apa yang saya rasakan waktu itu, sekarang dirasakan juga oleh mereka. Tapi mau dikata apa lagi, memang waktu saya tidak cukup banyak untuk berleha-leha bersama mereka.

Banyak peristiwa-peristiwa penting yang mereka lalui dan saya melewatkannya. Mulai dari wisuda mereka, pernikahan teman yang tak sempat saya hadiri hingga peristiwa-peristiwa lainnya.

Beberapa kali saya merasa tidak memiliki teman karena selalu sibuk. Terlalu tak acuh terhadap lingkungan luar dan hanya berkutat dilingkungan yang itu-itu saja, membuat saya tidak peka terhadap mereka, terhadap keluarga.

Beruntung memiliki teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung ketika saya merasa tidak memiliki mereka. Selalu berusaha menjaga silahturahmi walaupun beberapa kali saya menolak ajakan mereka dengan alasan sibuk atau tak punya waktu. Bahkan rumah hanya dijadikan tempat singgah untuk tidur ataupun untuk bersembunyi dari segala panggilan kantor.

Entah berapa kali ucapan “maaf” saya lontarkan untuk menolak ajakan mereka. Namun demikian, mereka tetap mengerti dan berusaha untuk bertemu, walaupun terkadang harus menunggu saya datang hingga larut malam.

Mencari uang bekerja sebagai buruh media memang menjadi salah satu impian saya, tapi tidak membuat saya untuk melupakan dunia di luar pekerjaan saya. Saya sadar dengan semakin banyak waktu yang saya habiskan didunia kerja, maka semakin banyak hal yang saya lewatkan bersama teman-teman dan keluarga. Menjadi orang asing di lingkungan sendiri itu sangat tidak menyenangkan.

Banyak hal yang saya dapatkan dari beberapa tahun belakangan, dimana saya sedang sibuk-sibuknya dan melupakan bersosialisasi dengan yang lain. Mendapatkan yang benar-benar teman dan merasakan bahwa keluarga memang segalanya. Materi dan prestasi yang saya dapatkan tidak membuat mereka cukup bangga. Kehadiran, kepedulian dan dianggap memang penting dibandingkan dengan kerjaan. Itu merupakan suatu hal yang membuat mereka merasa lebih berarti dan bangga memiliki saya.


Setidaknya, saya mulai belajar untuk tidak melontarkan kata “Maaf, saya sibuk” ketika ada ajakan. Saya pernah meraskan arti dari sebuah kata penolakan, dan itu tidak baik.

Selasa, 08 Desember 2015

Si Unik yang Menakutkan

Jika mendengar kata burung hantu,  apa yang ada di benak kalian? Menakutkan, simbol kematian, pembawa sial, pembawa malapetaka atau segala hal negatif yang ada di benak kalian tentang burung hantu. Mungkin bukan hanya kalian yang berpendapat demikian. Di tengah-tengah masyarakat sudah lumrah muncul paradigma yang salah tentang si mata besar nan unik ini.

Tidak dipungkiri, memang sejak zaman dulu. Cerita mistis seputar hewan malam ini sudah beredar di mana-mana. Apalagi ditambah dengan wujudnya yang memang cukup menyeramkan. Matanya yang bulat besar, serta tumpukan bulu di dahinya semakin menambah efek horor ketika melihatnya. Di beberapa budaya, burung hantu bahkan dianggap sebagai simbol keajaiban.

Burung yang termasuk dalam kelompok anggota ordo Strigiformes, merupakan golongan burung buas atau karnivora (pemakan daging). Hewan ini aktif di malam (nokturnal). Mungkin ini sebabnya kenapa dikatakan burung hantu, karena aktifnya pada malam hari. Kebiasaannya bertengger di gedung-gedung tinggi atau pun di pohon yang tinggi. Bola matanya yang bulat dengan sorot mata yang tajam menambah kekhasannya. Saya lebih senang menyebutnya owl (sedikit menghilangkan kesan hantu yang melekat padanya). Nama itu membuatnya memiliki hal-hal yang lebih unik dan terlihat istimewa.

Saya memiliki owl dua ekor dengan jenis yang berbeda. Jenis yang satu adalah Oriental bay dan satunya jenis Strix Seloputo. Pada awalnya orang tua saya melarang untuk memilihara mereka. Alasannya sama dengan masyarakat yang lain, karena burung hantu membawa sial dan mendatangkan mahluk halus. Entah dari mana dasar pemikiran orang tua saya. Padahal, tidak ada satu pun yang diciptakan di muka bumi ini tanpa memiliki manfaat. Tidak ada di dalam Al-qur’an maupun hadits yang melarang memilihara owl karena mereka mendatangkan petaka. Kalau tidak percaya, silahkan cari sendiri Hadits atau ayat di dalam Al-qur’an dengan larangan memelihara owl. Bedanya di Indonesia dan di negara barat, owl di anggap sebagai simbol kebijaksanaan. Di Indonesia, malah dianggap sebagai jelmaan mahluk halus atau peliharaan mahluk halus. Wah, Parah!
Setelah di jelaskan dengan baik, akhirnya orang tua saya menerima kehadiran  mereka. Saya beri nama Weazly pada owl jenis Obay atau Oriental bay dan Bohai untuk jenis Strix Seloputo.

Jika ada yang mengatakan suara owl itu menakutkan dan sering dijadikan pertanda ada orang yang akan meninggal, mungkin Anda salah. Mungkin yang Anda dengar itu adalah burung Gagak, bukan owl. Owl memiliki bunyi yang berbeda setiap jenisnya. Suaranya pun tidak seperti yang kalian bayangkan. Suaranya ada yang seperti siulan, sumpritan, bahkan ada yang seperti suara orang yang lagi flu, serak-serak.

Owl memang hewan yang liar karena hidupnya di alam terbuka. Tetapi ketika dijadikan peliharaan, owl bisa mengalahkan setianya anjing kepada majikannya. Kuncinya, kalian tahu cara memperlakukannya.

Keunikan owl ini dapat dilihat dari bentuk fisiknya, terutama mata yang diam dalam rongganya. Sebagian besar owl tidak dapat menggerakkan mata mereka dalam rongganya. Berarti mereka harus menggerakkan seluruh kepala mereka untuk melihat ke arah yang berbeda. Karena owl memiliki mata menghadap ke depan, mereka mengembangkan pandangan binokuler. Bertentangan dengan mitos populer, yang mengatakan bahwa owl tidak dapat memutar kepalanya kebelakang. Ternyata owl dapat memutar kepalanya 135 derajat ke arah berlawanan, sehingga owl dapat melihat ke belakang bahunya sendiri, dengan eyeview total 270 derajat. Satu lagi, kenapa owl juga disebut hewan malam, karena owl matanya rabun dekat, dan jarak pandang pengelihatannya berkurang pada siang hari.

Predator ini dapat dijumpai di seluruh belahan dunia, kecuali Antartika. Di Indonesia saja memiliki lebih dari 50 spesies. Sebagai predator alam, owl kerap digunakan sebagai hewan pengendali hama tikus di sektor pertanian. Owl lebih efektif dibandingkan pengendalian tikus menggunakan racun tikus. Sepasang owl bisa melindungi 25 hektar tanaman padi. Wow, sudah pantas owl menjadi primadona para petani dalam hal mengendalikan hama tikus.

Lambang kebijaksanaan melekat pada owl di Negara barat, karena owl jarang berkicau. Ia hanya kebanyakan diam dan melihat. Selain itu, ia juga di kenal setia karena hanya sekali kawin. Luar biasa ya, seekor burung hantu yang bisa dikatakan namanya seram, namun di balik itu ia memiliki sifat yang begitu banyak positif. Si rendah hati juga melekat pada owl karena suka berdiam seperti patung tidak banyak tingkah. Berbeda dengan burung yang lain suka memamerkan dirinya. Misalnya Nuri dan Beo.

Jadi masih memiliki pandangan yang negatif kepada si unik yang bentuk wajahnya sudah menjadi tren Fashion ini? Semua terserah pada cara pandang kita terhadap owl.

''Dalam diam bijaknya, sorot mata hewan ini semakin banyak ia menatap dan melihat sesuatu, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia berbicara, maka semakin banyak ia mendengar. Dan semakin banyak ia mendengar, ia baru bergerak setelah memahaminya. Ia setia, karena hanya sekali kawin dan hanya mempunyai satu pasangan dalam seumur hidupnya''.

 

Traveller | Owlry Template by Ipietoon Cute Blog Design